Empat Siswa SMP Eben Haezar Dikeluarkan, Sekolah Gagal Lakukan Pembinaan

MANADO, MODLINENEWS.COM- Empat siswa kelas IX di SMP Eben Haezer 2 Manado menghadapi ketidakpastian status pendidikan menjelang ujian akhir.

Kondisi ini memunculkan keprihatinan dari berbagai pihak.

Apalagi informasi yang diterima media ini, dikeluarkan empat siswa itu karena ada tekanan dari seorang oknum pejabat yang punya posisi penting.

Dalam dunia pendidikan, setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pembinaan, pendampingan, serta kesempatan yang adil untuk menyelesaikan proses belajar mereka, terlebih bagi siswa yang telah berada di tahap akhir jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Situasi ini semakin menjadi sorotan karena para siswa tersebut telah lama menempuh pendidikan di sekolah tersebut dan kini berada di fase krusial yang menentukan masa depan mereka.

Di usia yang masih membutuhkan bimbingan, pendekatan yang terlalu menitikberatkan pada sanksi tanpa diimbangi pembinaan dinilai berpotensi mengabaikan esensi pendidikan itu sendiri.

Pendidikan pada hakikatnya bukan semata soal penegakan aturan, melainkan juga proses membentuk karakter, memperbaiki perilaku, serta memberikan kesempatan bagi anak untuk berkembang ke arah yang lebih baik.

Terlebih, dengan waktu yang semakin dekat menuju ujian akhir, keputusan yang diambil terhadap siswa diharapkan tetap mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi keberlanjutan pendidikan mereka.

Menanggapi hal ini, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Manado, Grace Sondakh, menyayangkan situasi yang terjadi.

Ia menilai setiap kebijakan pendidikan, kepentingan terbaik bagi anak seharusnya tetap menjadi prioritas utama.

Menurut Grace, meskipun sekolah memiliki kewenangan dalam menetapkan aturan dan kriteria kelulusan, pendekatan yang lebih humanis dan edukatif perlu dikedepankan, terutama bagi siswa yang masih berada dalam usia wajib belajar.

Ia juga menyampaikan pihak Dinas Pendidikan akan memberikan imbauan kepada sekolah untuk melakukan evaluasi terhadap aturan internal yang dinilai perlu disesuaikan agar lebih berpihak kepada peserta didik.

“Kami berharap ke depan ada penyesuaian kebijakan yang lebih mengedepankan kepentingan anak, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujarnya.

Kepala SMP Eben Haezer 2 Manado, Gledis Pandeleke, yang dikonfirnasi wartawan menjelaskan pihak sekolah telah melalui berbagai tahapan sebelum mengambil keputusan terkait keempat siswa tersebut.

Gledis bilang, mengklaim pihaknya telah melakukan pembinaan berulang kali, mulai dari pemanggilan orang tua, identifikasi permasalahan, hingga koordinasi dengan berbagai pihak terkait.

Keputusan yang diambil pun merupakan hasil rapat dewan guru yang mempertimbangkan kondisi siswa secara menyeluruh.

Menurutnya, salah satu faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah penilaian sikap, yang merupakan bagian penting dari kriteria kelulusan.

“Setiap sekolah memiliki kriteria kelulusan, dan salah satunya adalah penilaian sikap yang minimal harus baik. Dalam kasus ini, terdapat pelanggaran yang dinilai cukup berat sehingga memengaruhi pemenuhan kriteria tersebut,” jelasnya.

Meski demikian, pihak sekolah menegaskan bahwa para siswa tersebut tidak secara langsung dikeluarkan.

Mereka masih terdaftar sebagai siswa dan diberikan kesempatan untuk tetap mengikuti pembinaan di sekolah.

“Boleh tetap sekolah di sini tapi mengulang satu tahun lagi,” tegasnya.

Di tengah polemik yang berkembang, sempat muncul isu adanya dugaan tekanan dari pihak luar dalam proses pengambilan keputusan.

Namun, pihak sekolah membantah hal tersebut dan menegaskan keputusan diambil secara independen berdasarkan mekanisme internal sekolah.

Informasi terkini yang diterima media ini, empat siswa dan orang tua mereka mengalami tekanan mental, belum lagi dengan usaha ekstra mencari sekolah baru di waktu ujian yang semakin dekat.

(joyke)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *