Modlinenews.com, Minut- Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Minahasa Utara Decky Wagei S.Pt. M.Si menegaskan kualitas pendidikan berasal dari integritas serta komitmen kerja tenaga kependidikan.
Menurutnya, baik integritas dan komitmen kerja menjadi fondasi utama yang menggerakkan seluruh sistem di lembaga pendidikan.
Dikatakannya, komitmen yang tinggi melahirkan pelayanan administrasi yang cepat, ramah, dan profesional.
Sementara, Tenaga Kependidikan yang meliputi kepala sekolah, pengawas, pustakawan, laboran, hingga staf administrasi merupakan tulang punggung yang menggerakkan roda ekosistem sekolah secara keseluruhan. Ketika guru berfokus pada proses mengajar di kelas, tenaga kependidikan memastikan seluruh sistem pendukung berjalan dengan bersih, jujur, dan optimal.
Berikut adalah alasan mengapa kedua faktor tersebut menjadi kunci utama:
1. Integritas sebagai Fondasi Karakter
Keteladanan Nyata:
Lingkungan sekolah adalah tempat penanaman nilai moral. Integritas staf dalam mengelola administrasi, nilai, dan fasilitas sekolah menjadi contoh langsung bagi siswa.
Transparansi & Akuntabilitas:
Menjamin pengelolaan dana pendidikan (seperti dana BOS) dan operasional sekolah bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Objektivitas Data:
Memastikan data pokok pendidikan (Dapodik), nilai, dan administrasi siswa dikelola secara jujur tanpa manipulasi.
2. Komitmen Kerja sebagai Penggerak Mutu
Efisiensi Layanan:
Komitmen yang tinggi melahirkan pelayanan administrasi yang cepat, ramah, dan profesional untuk mendukung kenyamanan siswa serta guru.
Iklim Belajar yang Kondusif:
Tenaga kependidikan yang berdedikasi akan memastikan fasilitas belajar, perpustakaan, dan laboratorium selalu dalam kondisi siap pakai demi mendukung pembelajaran.
Resiliensi Sekolah:
Komitmen kerja membuat institusi pendidikan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, seperti digitalisasi administrasi sekolah.
Decky Wagey juga Anggota DPRD Minahasa Utara ini mengingatkan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada kurikulum dan infrastruktur fisik semata, melainkan juga pada pengembangan kapasitas moral (integritas) dan etos kerja (komitmen) para pelaku pendidikan.
(joyke)
